Sudah cukup, aku tak ingin lagi menyatakan cinta …

Sekian tahun aku mendambamu,

sekian tahun aku merindumu,

sekian tahun aku mencintaimu,

Ketika kamu membawa pulang tugas-tugas kantor yang membuatmu pusing,

aku datang untuk membantumu mengerjakannya dengan suka cita,

meski aku sendiri juga punya pekerjaan — yang ku nomor-dua kan demi kamu.

Ketika kamu capek setelah bekerja dan malam masih harus kuliah,

aku datang untuk menjemput dan mengantarkanmu kuliah dengan suka cita,

meski aku sendiri pun lelah setelah seharian bekerja.

Ketika aku mendapat tugas ke luar kota dan kembali,

seketika aku datang ke rumahmu hanya untuk mengobati rindumu padaku,

meski sebenarnya masih ada sisa lelah setelah menempuh perjalanan dan bekerja.

Aku memang pencemburu, ketika kamu diam-diam pergi jalan-jalan berdua

dengan orang lain yang kau katakan hanya sahabat saja,

meski begitu aku pun tetap selalu memaafkanmu.

Bukankah kamu juga sangat pencemburu waktu itu?

Bahkan ketika aku membeli HP baru yang dual GSM itu kamu sangat marah padaku,

kamu curiga aku akan membagi hati dengan orang lain,

namun lihatlah… sekian tahun aku masih tidak meninggalkanmu.

Benar ku mencintaimu,

tapi tak begini …

karna sekarang tlah kau khianati hati ini,

kau curangi aku ..

Sekian tahun aku mencoba memahami sikapmu,

sekian tahun aku mencoba memaafkanmu,

sekian tahun aku mencoba melupakanmu,

Sekarang aku mengerti,

betapapun aku mencintai, kini kamu telah menjadi milik orang lain.

Sekarang aku mengerti,

terlalu mencintai itu hanya akan membuat hati juga terlalu sakit ketika dikhianati.

Sekarang aku mengerti,

kesungguhan mencintai dan memberi ketika belum terikat pernikahan,

tidaklah menjamin akan berakhir menjadi indah dalam pernikahan.

Sekarang aku mengerti,

sudah cukup, aku tak ingin lagi menyatakan cinta..

padamu, atau pada perempuan lain.

Sudah cukup, biarlah kutitipkan rindu dan cinta terakhir yang masih tersisa ini

pada Robb yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sudah cukup, biarlah Dia yang menjaga rindu dan cintaku yang terakhir,

untuk dipersembahkan pada perempuan pilihan-Nya.

Dan…

hanya kepada perempuan pilihan-Nya itu,

kelak ketika ia menjadi istriku, aku akan menyatakan rasa cinta dan rindu ini,

hanya padanya, hanya padanya.

Aku memang bukan seorang ikhwan sejati,

namun aku sudah merasa cukup untuk tidak lagi mengumbar perasaan hati

pada seseorang yang tidak halal bagiku.

Mungkin di hati ini, memang mulai tumbuh perasaan sayang pada seseorang yang lain,

tapi aku tak akan mengatakannya padanya,

Mungkin diam-diam aku juga selalu mencari tahu keadaannya,

tapi aku tak akan menunjukkan perhatian dengan sms ataupun telp dsb,

aku hanya diam-diam senantiasa menyebut namanya dalam doa-doaku,

Mungkin caraku ini sungguh sangat tidak dimengerti,

tapi aku sudah mempercayakan semua padaNya,

pada Dia yang tidak pernah men sia-siakan siapa yang percaya padaNya.

Aku hanya berharap,

cinta yang terakhir ini akan menjadi yang terindah,

yang penuh berkah, mawaddah wa rohmah.

Amiiin.

Catatan ini terinspirasi dari dua catatan ini : MENCINTAI DALAM HENING dan CINTA DALAM HATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s